My Weblog

June 29, 2010

Pandangan tentang Orientalisme

Filed under: Uncategorized — amacorablog @ 7:27 am

Pendahuluan
Islam, sejak kemunculannya pada awal abad ke-7 masehi, membuat Barat (Eropa) serba “tidak enak”. Apalagi ketika Arab-Islam (kurang lebih pada abad ke-8 dan ke-11 M) sedang berada di puncak peradaban dunia yang membawa pengaruh besar dari segi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan yang terpenting pengaruh ilmu pengetahuan terhadap bangsa-bangsa lain. Pengaruh ini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia-Afrika, tetapi sampai pada kawasan Eropa . Pada saat pusat-pusat Islam di Andalusia (spanyol) sedang berada di puncak kecemerlangannya dengan perkembangan kajian-kajian keilmuan seperti filsafat Yunani, kedokteran, astronomi, dan lain-lain, pusat-pusat intelektual di Eropa Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa yang dihuni bangsa semi Barbarik yang merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca. Oleh sebab itu, orang-orang Eropa banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Akan tetapi setelah 5 abad berjalan kekuasaan Islam di Spanyol telah mendapat reaksi yang besar dari kaum Kristen Spanyol dengan “gerakan Perang Salib”. Peperangan ini berlangsung sekitar 2 abad dan akhirnya pada tahun 1492 Masehi kekuasaan Islam berakhir.
Orientalisme muncul ke permukaan bertaut erat dengan latar belakang psiko-historis di atas. Islam pada abad-abad lampau itu dicurigai, ditakuti tapi diam-diam juga dicemburui dan dikagumi. Perasaan-perasaan ini semakin mengental menjadi ketertarikan untuk mengkaji dunia Timur ketika adanya kebutuhan akan kekuasaan kolonial Eropa Barat untuk belajar dan memahami masyarakat yang mereka kuasai. Maka tidak heran bila sistem pengetahuan Orientalisme selama berabad-abad menjadi alat kepentingan kolonialisme. Akan tetapi ketika kolonialisme yang memayungi corak Orientalisme abad 18, 19, dan 20 lenyap, justru Orientalisme itu sendiri semakin terlembaga. Dengan otoritas akademis dan tradisi literatur yang berwibawa, Orientalisme pasca kolonial ingin menjadi suatu “obyektivitas ilmiyah” dalam melihat Timur. Hal ini pernah dikatakan oleh Bernard Lewis sebagai mana dikutip Richard C. Martin dalam salah satu tulisannya dan Montgomery Watt yang menyatakan bahwa usaha-usaha para orientalis untuk mengeksplorasi pengetahuan tentang Timur selalu timbul dari “rasa ingin tahu intelektual.” Bahkan Karel A. Stenbrink menyayangkan kalau hambatan-hambatan mental kaum Muslim tidak segera diatasi mereka tidak akan bisa menikmati prestasi-prestasi akademis dan scholarship dari para orientalis.
Terlepas dari “obyektivitas ilmiah” tersebut mungkin ada infrastruktur orientalis yang tidak boleh diabaikan saat ini yaitu relasi ekonomi politik global yang didominasi Barat. Barat dan Islam memang dari dulu mempraktekkan sistem penolakan satu sama lain. Tetapi penolakan Baratlah, berkat dominasi globalnya (hegomoninya) yang jauh lebih berlaku.
Begitu besarnya perhatian Barat lewat hegemoni kulturalnya terhadap Timur, khususnya Timur Islam, sehingga menurut Edward W. Said dalam karya monumentalnya, Orientalism, antara tahun 1800-1950 saja, tidak kurang dari 60.000 buku telah ditulis pihak Barat tentang Timur Dekat (The Near Orient).Kenyataan ini sama sekali tidak diimbangi oleh pihak Islam untuk juga mengkaji peradaban dan warisan kultural Barat yang sekarang masih berada “di atas angin”.

Beberapa Tanggapan tentang Orientalisme
Pergunjingan mengenai Orientalisme menjadi semakin ramai terutama sejak Edward Said, seorang Kristen Palestina dan aktivis PLO di Amerika, menulis buku Orientalism. Dalam buku ini, Said memaparkan secara panjang lebar hakekat Orientalisme itu, yang baginya secara keseluruhan tidak lebih dari alat penjajah bangsa-bangsa Barat atas bangsa-bangsa Timur khususnya Timur-Islam. Gugatan yang paling mendasar dari Said muncul dalam penolakannya terhadap istilah Orientalisme, atau ketimuran. Menurutnya apa yang dikatakan Timur bukanlah sesuatu yang alami atau ada dengan sendirinya. Dalam istilah Said, Timur (Orient) adalah imaginative geography yang diciptakan secara sepihak oleh Barat. Kriteria Timur tidak pernah jelas secara kategoris, kalaupun ada sesuatu yang menjadikan Barat-Timur berbeda, hal itu juga merupakan hasil konstruksi sepihak masyarakat Barat. Persoalan metodologis kemudian muncul ketika imajinasi Barat tentang Timur ini dinyatakan sebagai temuan yang bersifat obyektif dan netral. Untuk itu Said menganggap kajian Orientalisme selalu berkedok ilmiah dengan mengatasnamakan diri pada ilmu .
Penolakan ekstrim terhadap obyektivitas kajian orientalis ini muncul dalam bentuk nativisme (pandangan yang menyatakan bahwa natives atau pelaku adalah satu-satunya yang mengetahui tentang dirinya).Pandangan ini di antaranya dikemukakan Mahmud Shakr. Dia berpendapat bahwa untuk dapat memahami Islam seseorang harus menjadi Muslim dahulu, karena Islam sebagai agama juga terekspresi dalam bentuk budaya dan bahasa. Pijakan ini mendorong Shakr untuk tidak melihat adanya kebenaran dalam karya orientalis tentang Islam maupun Arab. Baginya, orientalis yang berlatar belakang budaya Barat dan beragama non Islam tidak mungkin dapat mengerti tentang Islam. Pandangan ini sebenarnya cukup umum di kalangan umat Islam. Kelebihannya adalah kemampuan Shakr untuk menerjemahkan penolakannya terhadap Barat dalam rumusan dan kaidah ilmiah.
Dalam pandangannya tersebut Edward Said tidak menguraikan pemikirannya secara dogmatis dalam mengkritisi Islam-Arab dan The West, namun dia menguraikan pemikirannya tersebut seperti karya sastra. Dia juga mengekspos sifat-karaksteristik dan antagonistik antara budaya Islam-Arab dengan Barat. Sebagai seorang kelahiran Palestina, Edward Said menginginkan tanah kelahirannya tersebut menjadi suatu negara yang mandiri serta berdaulat, namun meskipun begitu dia tetap mengakui keberadaan negara Israel, oleh karena itu Edward Said banyak di kritik oleh dunia Arab khususnya dari kelompok Hamas.
Ada suatu hal yang menarik dari Edward Said yaitu dia mengkritik Barat tetapi tidak mengecam gerakan radikal Islamik Al-Qaeda. Hal itu dapat dimengerti karena menurutnya tak ada sesuatu yang “ terisolasi” di arena “ globalisasi”. Pengaruh-mempengaruhi, hegemoni pengaruh Islam Vs Barat maupun pengaruh Liberal Demokratis Barat (Occident) kepada negara-negara lemah (Orient). Sebenarnya pandangan dasar orientalisme yang ditulis Edward Said merupakan suatu ilmu dengan kepentingan untuk “menguasai” bangsa-bangsa diluar Barat hal ini bisa kita lihat secara nyata hegemoni dunia Barat di Timur, khususnya dalam penguasaan ekonomi serta menguras sumberdaya alam di Tmur namun tetap memberi stereotif kepada Timur sebagai negara-negara primitif. Pena orientalis seolah sama kedudukannya dengan serdadu, pedagang. dan pegawai pemerintah kolonial mereka datang untuk menyerbu dan menjarah bangsa lain yaitu bangsa-bangsa di Timur maupun negara-negara berkembang. Dalam karya orientalismenya tersebut, Edwar Said ingin menyatakan kepada dunia bahwa ada alternative yang lain, pihak ketiga yaitu : peradaban manusia non kekerasan, toleran, demokratik tertib sipil dari dunia ketiga.
Berlainan dengan pandangan natives di atas, beberapa kalangan baik Muslim maupun non-Muslim banyak yang berpandangan lebih hati-hati dalam melihat persoalan Orientalisme. Mereka kebanyakan tidak begitu saja menolak karya orientalis, bahkan mereka kadang-kadang menerima pandangan-pandangan tentang Islam yang dikemukakan oleh beberapa orientalis. Muhammad Abdul Rauf, misalnya, tidak begitu saja menyamaratakan karya-karya orientalis Barat. Baginya tidak semua karya orientalis harus ditolak dan dianggap tidak berguna, sebab di antara mereka terdapat orientalis yang jujur (Fair-minded Orientalist). Rauf tidak menafikan adanya bias serta distorsi yang muncul dari kalangan orientalis. Namun peristiwa semacam ini hanya terjadi jika orientalis yang menulis bersikap tidak jujur. Asaf Hussain, sependapat dengan Abdul Rauf bahwa sebagian orientalis memang bermaksud untuk mendiskreditkan Islam. Beberapa di antaranya adalah Duncan Mac Donald yang secara eksplisit menginginkan kehancuran Islam. Begitu juga dengan Guilbert de Nogent yang begitu tinggi keinginannya untuk menghancurkan Islam. Bahkan untuk tujuan ini, de Nogent secara terang-terangan merasa tidak perlu lagi menggunakan data untuk berbicara tentang Islam. Baginya berbicara apapun tentang Islam tetap sah adanya, sebab siapapun bebas berbicara tentang keburukan seseorang yang kejahatannya sudah melampaui kejahatan apapun di dunia. Husain menilai bahwa orientalis seperti ini sudah keluar dari etika akademik dan keilmuan, yang tujuannya tidak lain adalah untuk mendiskreditkan Islam.
Kecaman terhadap Orientalisme juga datang dari pengamat Barat sendiri. Gordon E. Pruett berpendapat bahwa banyak orientalis yang memojokkan makna-makna Islam melalui operasionalisasi metodologi dunia. Kecenderungan umum yang terdapat pada tulisan orientalis adalah menganggap Islam sebagai fenomena obyektif. Dengan cara ini keyakinan Islam dan pandangan orang Islam sendiri tidak banyak diperhatikan, sehingga orientalis seringkali gagal memahami Islam secara lebih memadai. Sedangkan Bryan S. Turner, pengamat sosiologi Islam ini melihat bahwa gambaran tentang Islam dan Timur dalam Orientalisme sangat bersifat Eurosentris. Hal ini dikarenakan Islam merupakan kekuatan asing terbesar dalam masyarakat Barat yang nantinya menjadi semacam perbandingan bagi orang Barat sendiri .
Di samping itu, ada kritik yang cukup obyektif dan simpatik dari Marshall Hodgson kepada Clifford Gertz, seorang antropolog Amerika yang bukunya Religion of Java sangat berpengaruh di Indonesia di kalangan tertentu. Gertz dalam bukunya itu secara ringkasnya menyatakan: “sejauh-jauh orang Jawa itu Islam, namun unsur-unsur Hinduisme, Budhisme, dan Animismenya masih lebih banyak dari pada unsur Islamnya.” Menurut Hodgson, inilah contoh stategem kolonialistik yang mencoba memperkecil makna kehadiran Islam di suatu negeri jajahan. Gertz, kata Hodgson melakukan stategem yang juga dianut oleh para ahli di kalangan kaum penjajah Perancis atas kawasan Afrika Utara.
Penutup
Dari beberapa pemaparan dan pandangan terhadap Orientalisme tersebut di atas, tampaknya para pengkaji peradaban Islam masih harus mendefinisikan sikapnya yang lebih jelas, obyektif, dan konsisten terhadap Orientalisme dan kaum orientalis. Hal itu dikarenakan para sarjana keislaman modern sendiri sekarang ini banyak yang mengembangkan otoritas akademiknya berdasarkan pengalaman akademik mereka dengan kaum orientalis atau dengan para sarjana Barat yang non-Muslim. Sebagai contoh, mereka itu ialah Muhsin Mahdi di Harvard; Mahmud Ayub, Ismail al-Faruqi (almarhum), keduanya di Temple, Sayyed Husain Nasr di Georgetown, Hamid Algar (seorang Muslim Inggris) di Berkeley; Fazlur Rahman (almarhum), John Woods (seorang Muslim Amerika), dan Robert Bianci (seorang Muslim Amerika) kesemuanya di Chicago, dan Hamid Inayat (almarhum) di Oxford. Lebih dari itu, kini agama Islam berkembang pesat di Barat, mula-mula terdiri dari kaum imigran yang berasal dari negeri-negeri Islam tapi kemudian meliputi pula penduduk setempat yang berpindah ke Islam. Maka mulailah tampil tokoh-tokoh Islam dari kalangan orang-orang Barat modern yang mengambil peran sebagai pemikir Islam mutakhir seperti Muhammad Marmadake Pickthall, Muhammad Asad, Fritjhof Schuon, Martin Lings, Roger Garraudi, dan Mourice Bauceille. Dengan banyaknya pemikir Muslim yang berlatar belakang Barat dan juga hidup di Barat tersebut tentunya harus ada definisi ulang tentang apa dan siapa orientalis dan Orientalisme itu, atau bahkan definisi itu tidak diperlukan lagi.
Melalui upaya yang melelahkan, banyak dari mereka telah memberi kontribusi bermanfaat bagi pengetahuan kita tanpa menyalahi subtansi keilmuan Muslim, Nabi, atau makna al-Qur’an. Orang-orang semacam itu memandang Muslim sebagai masyarakat yang mempunyai kebenaran tersendiri, tidak sebagai subyek tendensi pribadi dan kelompok atau hanya sebagai obyek rasa ingin tahu. Akan tetapi, tidak menafikan juga adanya banyak sarjana Barat non-Muslim yang memang dengan sengaja mendiskreditkan umat Islam dikarenakan tendensi pribadi atau kelompoknya, yang tidak bisa dilepaskan dari latar belakang ekonomis, politis, maupun kultural. Fenomena ini memberi alasan kita untuk selalu bersikap kritis kepada kaum orientalis dan karya-karyanya, yang secara tidak langsung kita masih dapat menfaatkannya untuk dikaji lebih mendalam, salah satunya ialah pendekatan historis mereka kepada masalah-masalah Islam. Dan yang lebih penting lagi ialah kesadaran mereka tentang perlunya geneologi suatu ide atau doktrin. Kesemuanya itu secara apologetik mungkin untuk membantah pendapat kaum orientalis itu, tetapi secara lebih sejati mungkin justru akan menemukan informasi-informasi yang memang kita perlukan dalam rangka memahami agama dan budaya kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post-Modernisme, Jakarta: Paramadina, 1996.
Fauzi, Ihsan Ali, “Orientalisme di Mata Orientalis: Maxim Rodinson tentang Citra dan Studi Barat atas Islam” dalam Ulumul Qur’an, No. 2, Th. 1992.
Huntington, Samuel P., “Benturan antar Peradaban Masa Depan Politik Dunia”, Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5, Vol. IV, Th. 1993 dan No. 2, Vol. V, Th. 1994.
Ma’arif, Ahmad Syafi’i, “Orientalisme Mengapa dicurigai ?” dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. 3. No. 2 Th. 1992.
Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban, Jakarta: Paramadina, 2000.
Martin, Richard C., “Islam dan Studi Agama” dalam Richard C. Martin (ed) Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, terj., Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001.
Said, Edward W., Orientalism, terj., Bandung: Pustaka, 1996.
Shihab, Alwi, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Bandung: Mizan, 1999.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2000.
http://nucim.org/dina/diskursus/diskursus_detail.asp?adressID=52

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: