My Weblog

June 29, 2010

KONTEKS SEJARAH INTELEKTUAL ABAD PERTENGAHAN

Filed under: Uncategorized — amacorablog @ 7:25 am

Pendahuluan.
Dalam sejarah filsafat ada saat-saat yang dianggap penting sebagai patokan suatu era (zaman), karena selain memiliki zaman atau khas, yaitu suatu aliran filsafat bisa meniggalkan pengaruh yang sangat bersejarah pada peradaban manusia. Pada awal abad ke-6 filsafat berhenti untuk waktu yang lama. Segala perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat. Hal ini disebabkan karena abad ke-6 dan ke-7 adalah abad-abad yang kacau.Karena pada waktu itu adanya perpindahan bangsa-bangsa yang masih belum beradab terhadap kerajaan romawi, sampai kerajaan tersebut runtuh. Bersama kerajaan itu runtuh, runtuh pula lah peradaban romawi, baik itu yang bukan umat kristiani maupun peradaban kristiani yang di bangun pada abad ke-5 terakhir. Pada perkembangan peradaban yang kacau ini, mungkin ada yang berkembang pada peradaban yang baru di bawah pemerintahan Karel Agung (742 — 814), yang memerintah pada awal abad pertengahan, di eropa mungkin ada ketenangan di bidang politik. Pada waktu itulah kebudayaan mulai bangkit, dan bangkitlah ilmu pengetahuan dan kesenian. Juga filsafat mulai di perhatikan.

Filsafat abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuna. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru di tengah-tengah suatu perkumpulan bangsa yang baru, yaitu bangsa eropa barat. Filsafat yang baru ini disebut skolastik.

Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas akan pemikiran eropa yang berkembang pada abad tersebut, dan menjadikan suatu kendala yang disesuaikan dengan ajaran agama.Dalam agama kristen, pada abad pertengahan, tentu saja ada kecerdasan logis yang mendukung iman religius. Namun iman sama sekali tidak disamakan dengan mistisisme.

Zaman Patristik
Asal muasalnya zaman patristik adalah berawal dari suatu kelompok yang disebut patrisme, patrisme sendiri berasal . Berarti juga disebut sebagai pujangga-punjangga kristen dalam abad-abad permulaan tarikh masehi yang meletakkan dasar utama bagi intelektual agama kristen. Pada masa patristik di dunia barat mulai tersebar ajaran tentang Tuhan, manusia dan dunia , dan etikannya. Untuk mempertahankan dan menyebarkannya maka mereka mempergunakan filsafat Yunani dan memgembangkanna lebih lanjut. Khusnya mengenai masalah kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan dan sifat Tuhan.

Awal berkembangnya agama Kristen pada abad pertama, sudah ada pemikir-pemikir Kristiani yang menolak filsafat Yunani bersama dengan seluruh kebudayaan kafir, menurut pandangan mereka, di pandang sebagai hasil pemikiran manusia semata. Mereka berpendapat bahwa setelah Allah memberikan wahyu kepada manusia, maka mempelajari filsafat Yunani yang non-Kristen dan non-Yahudi adalah sia-sia bahkan berbahaya yang mengancam kemurniaan iman krisriani. Salah seorang pemuka pikiran atau menganut pendirian ini ialah Tertulianus (160-222). Tertulianus berpendapat fisafat yunani telah digantikan oleh wahyu.

Tetapi pemikir-pemikir Kristen lain ada yang juga mempelajari filsafat Yunani,karena perkembangan pemikiran yunani itu di pandang sebagai persiapan menuju ke Injil, kedua macam sikap ini sebenarnya masih tetap menggema di zaman pertengahan. Gregorius dari Nyssa (335—394) menciptakan suatu sintesa antara agama Kristen dengan kebudayaan Hellenistik (filsafat Yunani), tanpa mengorbankan apapun dari kebenaran agama Kristen. Tetapi ada juga karangan-karangan yang diduga ditulis oleh Dionysios yang sangat berbau neoplatonis. Dalam daerah timur kekaisaran Romawi, dalam daerah barat pun abad 4 merupakan zaman keemasan bagi pemikiran kristiani. Beberapa nama yang pantas disebut ialah Ambrosius darei Milano dan Hieronymus.

Agustinus adalah seorang pujangga Gereja dan filsuf besar. Setelah melewati kehidupan masa muda yang hedonistis (ia mula-mula menganut aliran Manichaeisme), Agustinus kemudian memeluk agama kristen dan mendirikan sebuah tradisi filsafat kristen yang berpengaruh besar pada abad pertengahan. Dari sudut sejarah filsafat, dialah pemikir yang paling penting dari seluruh masa patristik. Dia seorang teolog sekaligus filsuf, meskipun lebih menonjol posisinya sebagai teolog. Agustinus merupakan filsuf & teolog kristen terbesar pertama serta seorang raksasa dalam sejarah gereja, selain penyair kecil-kecilan ia juga mengajar tata bahasa dan retorika. Bagi dia, filsafat tak dapat dipisahkan dari teologi. Karyanya terpenting adalah Confessiones (Pengakuan-pengakuan) dan De Civitate Dei (Tentang Kota Allah).

Agustinus menentang aliran skeptisisme (aliran yang meragukan kebenaran). Menurut Agustinus skeptisisme itu sebetulnya merupakan bukti bahwa ada kebenaran. Orang yang ragu-ratu, merupakan bukti bahwa dia tidak ragu-ragu terhadap satu hal, yakni bahwa ia ragu-ragu. Orang yang ragu-ragu sebetulnya berpikir, dan siapa yang berpikir harus ada. Aku ragu-ragu maka aku berpikir, dan aku berpikir maka aku berada. Menurut Agustinus, Allah menciptakan dunia ex nihilo. Artinya dalam menciptakan dunia dan isinya, Allah tidak menggunakan bahan. Jadi berbeda dengan konsep penciptaan yang diajarkan Plato bahwa me on merupakan dasar atau materi segala sesuatu. Dunia diciptakan sesuai dengan ide-ide Allah. Manusia dan dunia berpartisipasi dengan ide-ide ilahi. Pada manusia partisipasi itu lebih aktif dibanding dunia materi.

Agustinus diakui sebagai Bapak Gereja yang besar oleh orang-orang Katolik Roma maupun orang-orang Protestan. Dalam teologinya jelas ada pengaruh Plato. Tetapi pada umumnya ia berpegang ketat pada Alkitab yang diterimanya sebagai Firman Allah. Hakekat manusia Yesus Kristus dan manusia pada umumnya dijelaskan berdasarkan pembahasan tentang Allah. Ditegaskan, terutama oleh Agustinus bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang (“lumens”) dari Allah. Meskipun demikian dalam diri manusia sudah tertanam benih kebenaran (yang adalah pantulan Allah sendiri). Benih itu memungkinkannya menguak kebenaran. Sebagai ciptaan, manusia merupakan jejak Allah yang istimewa : “imago Dei” (citra Allah), dalam arti itu manusia sungguh memantulkan siapa Allah itu dengan cara lebih jelas dari pada segala ciptaan lainnya.

Dalam zaman ini pokok-pokok iman Kristiani dinyatakan dalam syahadat iman rasuli. Didalamnya dituangkan rumusan ketat pokok-pokok iman, termasuk tentang trinitas, tentu saja dalam katagori pemikiran filsafati pada waktu itu dan dengan bahan dari Alkitab.

Zaman Skolastik dan Abad pertengahan
Nama skolastik menunjuk besarnya peranan sekolah-sekolah (termasuk universitas) dan biara-biara dalam pengembangan pemikiran-pemikiran filsafat. Masa skolastik dimulai setelah filsafat mengalami masa kemandegan karena situasi politik yang tidak stabil. Abad VI dan VII memang ditandai kekacauan. Selain perpindahan bangsa-bangsa, kerajaan Romawi mengalami keruntuhan akibat serbuan bangsa-bangsa barbar. Dengan keruntuhan kekaiseran Romawi, peradabannya pun runtuh. Baru sejak pemerintahan Karel Agung (742-814), keadaan mulai pulih. Kegiatan intelektual mulai bersemi kembali. Ilmu pengetahuan, kesenian, dan filsafat pun mendapat angin baru. Peran utama pada mulanya dimainkan oleh biara-biara tua di Gal ia Selatan, tempat pengungsian ketika terjadi perpindahan bangsa-bangsa. Masa skolastik mencapai puncak kejayaannya pada Abad XIII. Di masa ini filsafat masih dikaitkan dengan teologi, tetapi sudah menemukan tingkat kemandirian tertentu. Hal ini disebabkan oleh dibukanya universitas-universitas baru, berkembangnya ordo-ordo biara, disebarluaskannya karya-karya filsafat yunani .

Penyebaran karya-karya filsafat yunani menjadi hal yang penting. Karena inilah faktor terpenting bagi perkembangan intelektual dan filsafat. Karya-karya filsafat yunani itu terutama filsafat Aristoteles, yang praktis belum dikenal di Barat. Memang karya Aristoteles sudah dikenal, tapi terbatas pada logika. Masuknya filsafat Aristoteles ke Barat dimungkinkan lewat filsuf-filsuf Arab, terpenting di antaranya adalah Ibn Sina (980-1037) atau Avicenna, dan Ibn Rushd (1126-1198) alias Averroes. Dapat disebut juga beberapa filsuf Yahudi (yang menulis filsafat dalam bahasa Arab), terpenting di antaranya Salomon Ibn Geribol (1021-1050) alias Avicebron, dan Moses Maimonides (1135-1204). Avicena berusaha menggabungkan filsafat Aristoteles dan Néoplatonisme. Sedangkan Averroes merupakan pengagum Aristoteles dan menulis banyak komentar tentang pemikiran-pemikiran Aristotelian.

Sebutan skolastik mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan yang di usahakan oleh sekolah-sekolah, dan ilmu tersebut terikat pada tuntutan pengajaran di sekolah-sekolah itu. Semula skolastik timbul di biara-biara tertua di Gallia selatan, tempat pengungsian ketika ada perpindahan bangsa-bangsa. Sebab di situlah tersimpan hasil-hasil karya para tokoh kuno dan para penulis kristiani. Dari biara-biara di Gallia selatan itu kemudian skolastik timbul di sekolah-sekolah kapittel, yaitu sekolah-sekolah yang dikaitkan dengan gereja. Sifat filsafat skolastik adalah: pengetahuan yang digali dari buku-buku diberi tekanan berat. Jagad raya memang di pelajari, akan tetapi bukan dengan penelitian-nya, melainkan dengan menanyakan kepada pendapat para filsuf yunani tentang jagad raya itu. Ada yang mengatakan juga bahwa skolastik itu filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan.

Abad ke-5 sampai abad ke-9 terjadi perpindahan bangsa-bangsa. Suku bangsa Hun pindah dari Asia ke-Eropah. Bangsa Jerman berpindah-pindah melewati perbatasan kerajaan Romawi. Dengan begitu Eropa menjadi kacau balau dan perkembangan teologi dan filsafat tidak begitu besar. Yang paling berpengaruh pada masa ini adalah Thomas Aquinas. Thomas Aquinas sangat terpengaruh oleh filsafat Aristoteles. Orang Katolik terima Thomas Aquinas sebagai Bapak gereja. Orang protestan banyak menolak argumen-argumen Thomas yang terlalu terpengaruh oleh Aristoteles sehingga kadang-kadang menyimpang dari exegese yang sehat dari Alkitab.

Zaman skolastik dibagi dalam 2 tahapan
• zaman skolastik timur, yang diwarnai situasi dalam komunitas Islam di Timur Tengah, abad 8 s/d 12 M, dalam periode skolastik timur, terdapat berbagai interpretasi atas simbul dalam rumusan “filsafat teologi”, dalam periode skolastik barat tidak ada keraguan tentang makna simbul dalam rumusan “filsafat teologi”.
• zaman skolastik barat, abad 12 s/d 15 M, yang diwarnai oleh perkembangan di Eropa (termasuk jazirah Spanyol). Secara sederhana, dalam zaman Patristik, “filsafat teologi”, dengan tanda dapat dibaca sebagai “identik dengan”, “sama sebangun dengan”, “praktis tidak berbeda dengan”.
Daftar Pustaka
Salam ,Burhanudin ,Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, 2000
Poedjawijatna, I.R. ,Pembibingan Kearah Alam Filsafat, Jakarta,1986
Mudji Sutrisno dan Budi Hardiman, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta : Kanisius, 1992

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_5.pdf.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: