My Weblog

June 29, 2010

jenis sejarah menurut Koentoewidjojo

Filed under: Uncategorized — amacorablog @ 7:33 am

BAB II
SEJARAH LISAN

Kita perlu membedakan pengertian sejarah lisan dengan tradisi lisan, Jan Vansina memberi batasan tradisi lisan (oral tradition) bahwa dalam tradisi lisan tidak termasuk kesaksian mata yang merupakan data lisan. Juga di sini tidak termasuk rerasan masyarakat yang meskipun lisan tetapi tidak ditularkan dari satu generasi ke generasi yang lain. Tradisi lisan dengan demikian terbatas didalam kebudayaan lisan dari masyarakat yang belum mengenal tulisan. Kesejarahan tradisi lisan barulah sebagian dari isi tradisi lisan itu. Selain itu megandung kejadian nilai-nilai, moral, keagamaan, adapt istiadat, cerita-cerita khayal, peribahasa, nyanyian, mantra.
Sejarah lisan sebagai teknik dan metode yang digunakan oleh penulis sejarah dari zaman Romawi, zaman pertengahan dan zaman modern dimana sejarah lisan harus melalui tahap wawancara. Sejarah lisan memperkaya metode penelitian, menambah pengadaan sumber sejarah dan memperkaya penulisan sejarah secara substantif. Tradisi lisan menjadi sumber penulisan bagi antropolog dan sejarawan. Dalam ilmu antropologi tradisi lisan sebagai sumber data bagi penelitian sudah dipergunakan sejak awal timbulnya itu, tetapi dalam ilmu sejarah penggunaan tradisi lisan masih merupakan hal yang baru.
Berbeda dengan tradisi lisan, sejarah lisan tidak didapatkan tetapi dicari dengan kesengajaan. Penggalian sumber sejarah melalui teknik wawancara sudah lama dikenal, Sejarah lisan mempunyai banyak kegunaan, sejarah lisan sebagai metode dapat dipergunakan secara tunggal dan dapat pula sebagai bahan dokumenter. Sebagai metode tunggal, sejarah lisan tidak kurang pentingnya jika dilakukan dengan cermat. Banyak sekali permasalahan sejarah, bahkan zaman modern ini yang tidak tertangkap dalam dokumen-dokumen. Dokumen hanya berfungi sebagai saksi dari kejadian-kejadian penting menurut kepentingan pembuat dokumen dan zamannya, tetapi tidak melestarikan kejadian-kejadian individual dan yang unik dialami oleh seseorang atau golongan.
Banyak sekali jenis pekerjaan yang di masa yang lampau merupakan pekerjaan penting tetapi sekarang sduah punah. Misalnya abdi-abdi dalem kerajaan kejawen misalnya dalam pekerjaannya, keahliannya, hubungan social nya, kehidupan ekonominya. Sehingga dengan mewawancarai para abdi dalem dapat terungkap hal-hal yang kurang terungkap di dalam dokumen yang ditemukan. Sejarah lisan juga mempunyai sumbangan dalam penulisan sejarah keluarga, diantaranya : sebagai kelembagaan, sebagai sejarah trah ( dari waktu ke waktu ). Dimana dalam sejarah keluarga, sejarah lisan digunakan sebagai pengganti atau tambahan dari dokumen.
BAB III
Sejarah Sosial
Pada awal perkembangannya sejarah social merupakan sebuah gejala baru dalam penulisan sejarah,tepatnya sebelum Perang Dunia II dimulai.pada tahap awal sejarah social berkembang di Negara Perancis,yang kaum aliran ini disebut Annales.kemudian baru berkembang di dataran inggris ketika terdapat terbitnya majalah Comparative Study on Society and History.
Sejarah Sosial mempunyai kajian yang sangat luas dan beraneka ragam, kebanyakan sejarah sosial juga mempunyai hubungan yang erat dengan sejarah ekonomi, sehingga menjadi semacam sejarah sosial ekonomi. Penulisan sejarah sosial pertama kali ditulis oleh Sartono yang berjudul “Pemberontakan Petani di Banten tahun 1888”, karangan tersebut memperlihatkan telah digunakan pendekatan-pendekatan yang memanfaatkan teori dan konsep ilmu-ilmu sosial. Ada juga hasil karya March Bloch Sarjana Perancis yakni French Rural History,dimana dalam buku itu dia menjelaskan bagaimana dijelaskan mendetail mengenai sejarah dari petani tetapi juga masyarakat desa dalam artian Sosial-Ekonomi.tradisi tulisan semacam ini menjadikan masyarakat secara kseluruhan sebagai bahan garapan dalam artian hanyalah salah satu macam tema atau garapan dari sebuah sejarah social.dalam pengertian sejarah social masih banyak lagi yang dapat dikaji seperti sebuah kelas social terutam kaum buruh, transformasi dan perubahan masyarakat,sejarah peranan kelas maupun institusi social.sehingga sejarah social bisa mengambil fakta social sebagai bahan kajian dalam penyusunan penulisan sejarah.
Selanjutnya dalam penyusuan kerangka teoritis daam penyusunan tulisan untuk mengkaji suatu kajian tertentu seperti mengenai masyarakat dalam arti yang total dan global atau sejarah masyarakat dalam artian sebagai keseluruhan,terdapat strategi yang berbeda beda dalam penelitian dan penulisan sejarah social ini terkait adanya konsep diakronisa dan Sinkronis dalam ilmu sejarah. Dengan penggunaan ilmu-ilmu sosial, sejarawan mempunyai kemampuan menerangkan yang lebih jelas, sekalipun harus terikat pada modal teoritisnya. Dengan demikian keterikatan ini menyebabkan rekontruksi yang tidak lengkap, sebab harus menuruti logika dan seleksi sebuah model yang ekplisit. dalam hubungan strategi penulisan sejarah social inilah tulisan ini berusaha untuk menjelaskan. Dibawah ini merupakan model model guna peyusunan tulisan sejarah ialah sbb:
1. Model Evolusi
Model evolusi digunakan untuk menunjukan jenis penulisan yang menggambarkan perkembangan sebuah masyarakat itu berdiri dari sederhana menjadi sebuah masyarakat yang kompeks.
2. Model Lingkaran Sentral
Model ini digunakan untuk menulis mengenai kota atau masyaraka dari awal, tetapi dari titik yang sudah menjadi. maksudnya, setiap penulisan yang bertolak dari titik sejarah di tengah tengah demikian biasanya selalu mulai dengan lukisan sinkronis tentang masyarakat itu kemudian secara diakronis ditunjukan pertumbuhannya.
3. Model Interaval
Model ini digunakan oleh peneliti mengambarkan sinkronis yang diurutkan dalam kronologis sehingga tampak perkembangannya, sekalipun tidak tampak benar hubungan sebab akibatnya . model membandingkan dari zaman pada periode tertentu mengenai suatu masyarakat tertentu kemudian secara kebetulan ada pula keterangan mengenai masyarakat itu pada periode yang lain tanpa adanya mata rantai yang menghubungkan antara dua periode itu
4. Model Tingkat Perkembangan
Model ini adalah penerapan dari teori perkembangan masyarakat yang diangkat dari teori sosiologi.model model yang banyak dipakai dalam menerangkan perkembangan sejarah ialah marx dan Rostow.
5. Model jangka Panjang dan Menengah
Model ini diambil dari pemikiran Fernan Braudel menangani sejarah social. Menurut Braudel sejarah social terdapat tiga macam keberlangsungan. pertama ialah sejarah jangka panjang yang perubahannya sangat lambat, merupakan perulangan yang konstan dan perkembangan waktu yang tak dapat dilihat. sejarah ini terutama megenai hubungan manusia dengan lingkungannya (Geographical Time). kedua,ialah perkembangan yang lamban tetapi disinilah letak sejarah social itu sendiri. Braudel menyebutnya sebagai sejarah jangka menengah yang menempati sebuah Social Time. Ketiga, ialah sejarah jangka pendek,yaitu sejarah kejadian – kejadian.
6. Model Sistematis
Model pendekatan sejarah social yang mengkhususkan pada perubahan social.

BAB IV
Sejarah Kota
Sejarah kota merupakan sebuah kajian yang belum mendapat perhatian para kalangan sejarawan akademis . Baru pada awal abad ke-20 kota muncul sebagai suatu kategori dalam sejarah Indonesia.kota dapat disebut sebagai sebuah kesatuan yang secara sah berdiri sendiri, dan patut menjadi bidang kajian yang tersendiri pula.
Kemudian dalam sejarah Indonesia,terkait dengan adanya pertumbuhan kota kota tidak berarti hilang pula sebuah social kulturalnya.dalam hal ini dipetakan duhulu jika suatu daerah dinamakan kota,daerah tersebut cenderung dibawah pengawasan khusus,dalam artian langsung oleh pejabat tinggi,seperti misalnya patih dengan pusat kota tradisional ialah Kraton.
Terkait dengan penjelasan diatas, tidak berlaku untuk kota kota perdagangan di tepi laut.Palembang,misalnya meskipun merupakan kota administrative yang mengatur perdagangan antara penduduk sekitar dunia luar,tidak mengikuti pola tata kota social –kultural.peta kota Palembang pada abad ke-19 tidak terbagi karena pemusatan magis religious dengan kraton sebagai pusat. tetapi tersebar karena natural dalam artian kekuasaannya (perdagangan).jadi secara substansial bahwa kajain kota muncul sebagai suatu kategori dalam sejarah Indonesia itu,berawal ketika abad ke-20 yang semata mata didasarkan pada sudut pandang social cultural daripada ekologisnya.
Munculnya ditandai dengan munculnya kelas-kelas baru dimana muncul dari sektor industri karena ketergantungan yang tidak terlepas dari modal investor terutama investor asing. Dan pergeseran dari desa ke kota terjadi bersamaan dengan perubahan sosial dalam masyarakat. Permasalahan yang menjadi kekhasan kota, diantaranya :
• bidang garapan sejarah kota adalah perkembangan ekologi kota. Ekologi adalah interaksi antara manusia dengan alam sekitar dan perubahan ekologi terjadi bila salah satu komponen mengalami perubahan.
• bidang garapan sejarah kota adalah transformasi sosial ekonomis. Industrialisasi dan urbanisasi adalah bagian dari perubahan sosial.
• bidang garapan sejarah sosial adalah sistem sosial. Kota sebagai sebuah sistem sosial menunjukkan kekayaan yang tidak pernah habis sebagai bidang kajian.
• bidang garapan sejarah kota adalah problem sosial. Perkembangan ekologi, kepadatan penduduk, mobilitassosial dan hetetrogenitas dapat menyebabkan timbulnya masalah sosial.
• bidang garapan sejarah kota adalah mobilitas sosial. Dengan peralatan teoritis dan metodologis yang memadai, kekurangan-kekurangan dalam sumber sejarah akan dapat diatasi dan sejarah kota merupakan garis depan dari penulisan sejarah nasional.

BAB V
Sejarah Pedesaan
Sejarah pedesaan adalah sejarah sosial dan sejarah lokal. Antara sejarah sosial, sejarah lokal, dan sejarah pedesaan saling berbauran dalam pengertian, satuan penelitian dan permasalahannya dimana aspek dimensi waktu sangat penting. Sejarah pedesaan adalah sejarah yang meneliti tentang desa atau pedesaan, masyarakat petani dan ekonomi pertanian dimana garapannya adalah masyarakat petani. Dan ekonomi agraris merupakan bagian dari sejarah pedesaan. Tetapi disini akan banyak,menelaah sejarah pedesaan sebagai suatu konsep, satuan penelitian dan permasalahannya.
Sejarah pedesaan dalam konsep ialah sejarah dalam arti yang seluas luasnya,demikian kata Marc Bloch.maksudnya disini ialah dimensi waktu menjadi sangat penting, sebab perubahan ialah sebuah proses dalam waktu. Kronologi masih tetap menjadi ciri pokok dari penelitian sejarah;dengan kata lain, aspek prosesual dari sejarahlah yang membedakan dari ilmu ilmu social seperti Sosiologi dan Antropologi.kedua, kemudian sejarah pedesaan ialah sejarah yang secara khusus meneliti tentang desa atau pedesaan, masyarakat petani dan ekonomi pertanian (ekonomi agrarian).
Dalam sejarah pedesaan, dapat dimasukan ke dalam satuan-satuan yaitu ekosistem,goegrafis, ekonomis dan budaya yang mempunyai ciri-ciri natural. Sejarah pedesaan menitikberatkan penelitiannya pada perubahan yang terjadi di pedesaan. Sejarah pedesaan adalah sejarah tentang apa saja dengan bidang garapan desa, masyarakat petani, dan ekonomi pertanian. Sejarah adalah ilmu tentang perubahan-perubahan, dan dapat menggolongkan masalah, diantaranya : bangunan fisik, satuan sosial, lembaga sosial, hubungan sosial dan gejala psiko kultural. Dengan adanya hubungan antara berbagai satuan tentu saja terdapat saling mempengaruhi tetapi salalu pengaruh pengaruh itu dapat dilihat jelas dari mana datangnya.lebih dalam lagi, satuan penelitian ini terkait juga dengan permasalahan permasalahan yang kerap kali menjadi kajian dari sejarah pedesaan yakni Bangunan fisik, satuan social, lembaga social, hubungan social dan gejala psiko cultural. Sejarah pedesaan membicarakan mengenai lembaga keagamaan di dalam desa. Dimana lembaga desa yang berupa pola hubungan sosial dan organisasi sosial dapat menjadi tema untuk dijadikan sebagai objek kajian. Hubungan sosial di pedesaan kaya akan tema penelitian, diantaranya adalah masalah stratifikasi, integrasi, konflik, mobilitas sosial, migrasi dan hubungan desa-kota.

BAB VI
Sejarah Ekonomi Pedesaan
Sejarah ekonomi pedesaan merupakan jenis penelitian sejarah yang asing bagi sejarawan Indonesia. Sejarah ekonomi pedesaan merupakan pelepasan dari sejarah ekonomi politik yang mencari maknanya sendiri dalam mempelajari corak dan penjumlahan dari hubungan manusia yang bersifat ekonomi, social dan budaya dengan metode qualitatis yang maju dalam gerakan The New Economic History.
Secara singkat sejarah ekonomi mempelajari manusia sebagai pencari dan pembelanja. Jadi sejarah ekonomi bukanlah intrapretasi ekonomis terhadap sejarah, yang termasuk sejarah pada umumnya.sejarah ekonomi haruslah spesifik, sejarah dari satuan yang kongkret dan khusus. Sejarah ekonomi pedesaan dibatasi dalam lingkungan ekonomi pedesaan atau ekonomi petani.
Ciri dari ekonomi petani dalam sejarah ekonomi, diantaranya :
1. dalam bidang produksi, masyarakat terlibat dalam produksi agraria
2. penduduknya harus lebih dari separuhnya terlibat dalam pertanian
3. ada kekuasaan negara dan lapisan penguasaanya
4. ada pemisahan antara desa dengan kota, jadi ada kota-kota dengan latar belakang desa-desa
5. satuan produksinya adalah keluarga rumah tangga petani
Ekonomi petani diusulkan sebagai sebuah kategori tersendiri dalam searah ekonomi dengan maksud untuk memenuhi kekurangan analisa tentang perkembangan ekonomi, terutama dari kalangan ilmuwan Marxis yang hanya melihat urutan sejarah itu sebagai cara produksi perbudakan, feodalisme dan Kapitalisme dan Sosialisme. Oleh karena itu ekonomi petani tidak termasuk dalam sebuah salah satu ketegori yang sudah ada hingga sepantasnya kalau ekonomi petani yang banyak terdapat di Negara yang sedang berkembang.
Sejarah ekonomi pedesaan menitikberatkan factor factor ekonomi, seperti factor factor meliputi tanah, kerja, capital, upah, harga, sewa.selanjutnya ialah sector sector ekonomi, lembaga lembaga ekonomi, komiditi, pertumbuhan dan berikut masalah masalahnya.

BAB VII
Sejarah Wanita
Sejarah wanita dalam sejarah Indonesia merupakan sejarah yang dinilai ketinggilan oleh disiplin ilmu ilmus social lainnya,seperti sosiologi. Hal ini karena sejarah kita yang konvensional rupanya dipenuhi dengan tema tema sejarah politik dan militer. Terlebih lagi kedua sejarah itu bercorak Androcentric,yakni sejarah berpusat pada kegiatan kaum lelaki saja.untuk itu pada kajian ini, diupayakan sebuah benang merah antara Androcentric dan Androgynius menjadi sejajar, karena pada dasarnya masa lalu adalah masa lalu laki laki dan perempuan seharusnya sama sehingga tidak ada perbedaan yang ekslusif diantaranya.
Kemudian masuk dalam satuan tema penelitian sejarah wanita,yakni terdapat beberapa tema-terhitung sebelas dalam sebuah kajian,tema tersebut antara lain:
1. Peranan wanita dalam berbagai sector social ekonomi dengan contoh topic seperti “wanita dalam dunia usaha”, “wanita dalam kesenian”, “wanita dalam politik”, “wanita dalam pendidikan”, dll
2. Biografi wanita tertentu yang tak jarang mempunyai mentalitas kemandirian dengan contoh yang sudah banyak diketahui seperti kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Din dll
3. Gerakan wanita,terkait dengan gagasan/fikiran maupun sejarah pergerakan wanita itu
4. Gambaran wanita dalam suatu keadaan unik yang mempunyai dampak bagi lingkungannya.
5. Sejarah keluarga.karena dengan memahami kedudukan wanita dalam keluarga biasanya tampak dalam sejarah keluarga.
6. Budaya wanita.munculnya sekolah sekolah khusus untuk wanita , pers wanita, mode pakaian, perkumpulan arisan dll—kesemuanya itu dapat menjadi topic bagi budaya wanita.
7. Hubungan laki laki dan wanita dengan contoh sederhan yakni Siti Nurbaya
8. Kelompok kelompok wanita dengan cara penulisannya sama seperti tema no 2 yakni dituliskan dengan biografinya
9. Etnisitas.tema ini tak jarang sealu digabung dengan tema lainnya seperti sejarah keluarga.
10. Ekonomi
11. Penerbitan sumber

Bab VIII
Sejarah Kebudayaan

Di tengah arus globalisasi budaya dan universalisasi nilai-nilai,adalah suatu keharusan bila sejarawan menyumbangkan ilmunya kepada bangsanya dalam usaha mengenal diri sendiri agar supaya rekayasa masa depan tetap berpijak pada jati diri bangsa.dalam kaitan inilah sejarah kebudayaan mempunyai peranan yang penting.
Sudah banyak tulisan tentang manusia dan budaya diterbitkan,terutama dari kajian-kajian antropologi,filsafat,dan jurnalisme.akan tetapi,kajian-kajian itu merupakan pengamatan kontemporer masa kini atau berupa uraian tentang patokan-patokan budaya secara ideal.pengamatan kontemporer sering melupakan sejarah masa lalu,sedang pendekatan”ideal type”tdak merujuk pada kenyataan histories.oleh karena itu kajian histories memberi gambaran bagaimana tipe ideal budaya tertentu diaktualisasikan.
Kita tidak akan membedakan dengan jelas kedua istilah itu,tetapi ingin memberi batasan tentang masalah terpenting dalam kajian terhadap gejala kebudayaan atau peradaban.jika kita memakai pendekatan idealis,maka masalah pokoknya ialah the informing spirit dalam kebudayaan atau peradaban (selanjutnya disebut kebudayaan saja)yang tampak dalam pendekatan materialis yang kita temukan adalah a whole social order di mana produk estetik dan intelektual hanyalah ekspresi dari kegiatan-kegiatan sosial.jadi kalau kita memberi batasan kebudayaan sebagai dimensi simbolik dan ekspresif kehidupan sosial,kita tidak perlu bersusah payah membedakan antara kebudayaan dan peradaban,sekaligus kita melakukan sintesa tentang berbagai definisi kebudayaan menurut berbagai disiplin.
Voiltair (1694-1778) mewakili tradisi pencerahaan. Ia mencoba untuk mengungkapkann spirit humanin , yang merupakan sebuah “ benang labirin ditengah labirin sejarah’” Ia tidak mempunyai teori tentnag bentuk kebudayaan tetapi berusaha mencari criteria bagaimana sebuah bentuk kehidupan disebut beradab. Ia menemukan berbagai ukuran untuk menyebut masyarakat, bangsa atau rakyat beradab. Peradaban adalah gabungan dari esprit dan moeurs yaitu semangat dan dikap, serta cara-cara yang menuntun kehidupan sosial dan prilaku masyarakat.
Guizot (1787-1874) seorang politikus dan sejarahwan, berusaha mencari apa yang disebut sebagai “ akal dan kehendak yang tertinggi” yang menyatakan diri dalam sejarah, yaitu keajegan yang dapat dilihat melalui fakta-fakta sejarah. Apa yang dicarinya bukan anatomi sejarah yang menguraikan fakta-fakta sejarah. Tetapi mencoba menjelaskan anatomi, fisiologi dan fisiognomi sejarah. Karya Guizot berupa sejarah berfilsafat dengan menekankan factor manusia dalam menuju kemajuan.
Burckhardt (1818-1897) berusaha mencari struktur dan tata dalam sejarah kebudayaan. Setiap detil yang kecil dan tunggal sebenarnya adalah symbol dari keseluruhan dan satuan yang lebih besar. Menutut Buckhardt, kebudayaan ialah sebuah kenyataan campuran. Tugas dari sejarahwan adalah menggabungkan elemen-elemen dalam gambaran umum. Tapi bukan mengsubordinasikan semata-mata untuk kepada kaidah-kaidah hukumnya. Burkhardt berusaha melukiskan agama , festivak, negara, mitos, puisi, dan bentuk ekspresi kejiwaan lainnya dari kebudayaan kedalam bagaian yang berimbang dari kesatuan yang menyeluruh.
Lemprecht (1856-1915) melanjutkan pandangan sejarahwan zaman pencerahan yang melihat sejarah sebagai kisah kemajuan dan sejarah sebagai ilmu “ genetic” juga mewarisi tradisi Romantik tentang Volk dan Volkqeist, bangsa dan jiwa bangsa. Sejarah bagi lamprech ialah penulisan manausia dalam kolektivitas bukan manusia yang individual. Sejarah kebudayaan ialah sejarah dari Seeleleben , kehidupan rohaniah sebuah bangsa, Volksseele. Seeleleben kolektif itu dapat berupa apa saja, dimana ada jiwa bangsa disitu ada kebudayaan. Dengan membedakan dua katagori, yaitu jiwa yang terbelenggu dan jiwa yang terbebas, Lemprech berusaha membuat pembabakan sejarah bangsa jerman.
Huizinga menyebut kebudayaan sebuah struktur adalah sebuah bentuk. Sejarah adalah bentuk kejiwaan dengan apa sebuah kebudayaan menilai masa lalu. Namun , dengan metodenya sendiri sejarah adalah sumbangan penting bagi kebudayaan, Huizinga juga berpendapat bahwa sejarah perlu mencari hubungan-hubungan sehingga realitasnya dapat dipahami. Sejarah kebudayaan adalah usaha mencari “ morfologi budaya”, studi tentang struktur. Berbeda dengan sosiologi yang melihat objeknya melalui paradigma, motfologi budaya melihat gejala-gejala sebagai mempunyai makna yang jelas dalam dirinya. Dari semua penulis hanya Burckhardt dan Huizinga patut menjadi perhatian, karena keduanya dianggap sebagai penulis klasik sejarah kebudayaan.
Dari segi metodologis, burkhardt telah mendahului bermacam-macam jenis penulisan sejarah sesudahnya. Pertama pendekatannya sinkronis, sistematis, tetapi tanpa kesalahan kronologi dalam sajiannya. Kedua, dia berusaha memperluas bahan-bahan kajian sejarah kebudayaan dengan memberi gambaran secara menyeluruh. Huizinga sama dengan burkhardt, juga menekankan pentingnya general theme . Dalam tulisannya yang secara khusus membicarakan tugas sejarah kebudayaan, ia menyatakan bahwa tugas sejarah kebudayaan ialah mencari pola-pola kehidupan, kesenian dan pemikiran secara bersama-sama. Setiap gejala budaya harus disuguhkan sesuatu yang menarik dalam dirinya sendiri. Ia menolak kalau sejarah kebudayaan disamakan dengan sosiologi, sebab sosiologi berbicara tentang paradigma, lebih daripada tentang gejala-gejala pertikular.

Bab IX
Seminar Sejarah Lokal 1984

Dalam seminar itu telah dikemukakan lima pokok, yaitu
1. Dinamika masyarakat pedesaan
2. Pendidikan sebagai factor dinamisasi dan integrasi sosial
3. Interaksi antar suku bangsa dalam masyarakat majemuk
4. Revolusi nasional ditingkat local
5. Biografi tokoh local

Seminar itu menunjukan adanya semngat interdisipliner dikalangan sejarahwa Indonesia masa kini. Seminar ini mengisyaratkan bahwa historiografi Indonesia sudah mulai take-off. Ini memperlihatkan sejumlah sejarahwan telah berbagi pengetahuan dan keterampilan secara mereta, setelah sekian lama dirintis melalui seminar- seminar, proyek-proyek penulisan. Dalam seminar ini banyak ahli diluar sejarah yang memberikan sumbangan yang positif. Ini memberikan metodologi baru dalam penulisan sejarah Tulisan T.A Ridwan “Integrasi: sekedar tinjauan kebahasaan di Sumatra utara” memberikan contoh bagaimana intergrasi linguistic mampu menerangkan sejarah. Lalu ada tulisan Sanusi “Pemukiman sebagai salah satu sarana Komunikasi antar Suku bangsa dan pembauran” yang melukiskan pemisahan pemukiman berdasar suku dan bangsa yang terjadi dimasa lalu terlah menyulitkan intergrasi sosial menuju masyarakat majemuk. Lalu ada juga tulisan Saliman Lubis dan Dharmansyah “Masalah asimilasi antar pelajar pribumi dan Non-pribumi pada SMTA di kodya Medan” yang lebih merupakan karya sosiologi atau antropologi karena sifatnya yang meruang.Kesadaran mengenai dimensi waktu dalam penulisan sejarah tampak dalam dua tulisan mengenai pendidikan, yaitu karangan U.M Napitupulu “Pendidikan sebagi factor dinamisasi dan integrasi sosial dalam masyarakat Tapanuli Utara Selama kurun waktu satu dasarwasa menjelang berakhirnya perang dunia kedua dan setelah kemerdekaan”. Tema hubungan antar etnis juga mendapat sorotan paling banyak.
Dalam seminar ini perubahan sosial dan mobilitas sosial mendapat tempat dalam beberapa sumbangan. Seperti karya R.Z Leirissa “Midras dan Ambonsche BurgerSchool: dua bentuk sekolah yang bertolak belakang di Maluku tengah dalam masa penjajahan”. Hubungan migrasi dan perubahan sosial mendapat perhatian dari beberapa penulisan seperti karya Hamid Abbdullah “Dinamika Sosial Kelompok Imigran masyarakat Bugis di Linggi , Malaysia”. Untuk penulisan tentang jawa , penulisan perubahan sosial si pedesaan banyak dipengaruhi oleh perubahan agraria, contohnya A.M Djuliali Surojo “Perubahan struktur sosial di Pedesaan pada Abad XIX: Studi Kasus di Kabupaten Magelang dan Temanggung “. Masih mengenai pedesaan, tetapi lebih mengenai ideologi daripada struktur ialah tulisan-tulisan Muchlis “ Kerusuhan di pedalaman Makasar”.
Untuk tema jawa, tema yang jarang ditemukan adalah sejarah kebudayaan, sementara sejarah sosial sudah menjadi mode dalam kajian sejarah jawa. Contahnya : Darsiti Soeratman “Pengaruh pendidikan barat terhadap gaya hidup di istana : studi kasus kraton Surakarta dama periode 1900-1904”. Sejarah revolusi diwakili beberapa tulisan. Contohnya : Suyatno “Revolusi Indonesia dan pergolakan Sosial di Delanggu”. Dalam tulisan ini mengunakan konseo-konsep revolusi sosiologi. Sejarah politik kontenporer masih merupakan pantangan bagi sejarahwan dan masih merupaka kajian ahli-ahli ilmu politik. contoh : M habib Mustopho “ aksi terror PKI pasca G-30 S di Blitar Selatan”. Kajian biografi juga menampilkan beberapa tulisan yang menambah kekayaan pemahaman tentang sejarah dari berbagai aspek. Contohnya : Ayatrochaedi “pangeran wangsakerta sang sejarahwan”.
Sebagai catatan kita melihat bahwa sejarah local dalam bentuknya yang mikro telah tampak dasar-dasar dinamikanya, sehingga peristiwa-peristiwa sejarah dapat diterangkan melalui internal yang ditiap daerah mempunyai kekhasan tersendiri yang otonom. Dalam seminar ini sudah adanya pendekatan interdipliner yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam histotiografi, berupa pembukaan tema-tema baru.

Bab X
Sejarah Agama

Perbedaan pokok antara sejarah fiksi dengan fiksi ialah sejarah menyuguhkan fakta, sedangkan fiksi menyuguhkan khayalan,imajinasi atau fantasi. Buku Umar Kayam, Para Priyayi bukan fakta sejarah untuk zaman colonial, jepang, revolusi, dan 1965 dan bukan pula sumber sejarah, tetapi buku dapat menjadi dakta sejarah intelektual tentang persepsi pengarang mengenai zaman-zaman tersebut dalam buku itu.
Kaidah kedua, sejarah itu diakronis, ideografis dan unik. Sejarah itu diakrais, sedangkan ilmu sosial itu sinkronis. Artinya sejarah itu memanjang dalam waktu, sedangkan ilmu sosial meluas dalam ruang. Sejarah akan membicarakan suatu tempat dari waktu A sampai waktu B. sejarah berusaha melihat segala sesuatu dari sudut rentang waktu. Artinya, melihat perubahan, kesinambungan, ketertinggalan dan loncat-loncatan. Semantara itu, ilmu sosial bersifat sinkronis artinya meluas dalam ruang. Ruangan luas tapi waktunya pendek. Ibarat meneliti sebuah pohon, ilmu-ilmu sinkronis tertarik untuk membicarakan penampangnya, strukturnya dan lingkaran-lingkaran yang membentuknya. Di Indonesia metodologi itu berkembang pada akhir 1960-an , pelopornya adalah Sartono Kartodirdjo. Maka , dalam penelitian sejarah sekarang diakronis dan sinkronis digabung. Sejarah itu ideografis yang berarti melukiskan, sedangkan Ilmu Sosial itu Nomotetis yang berarti mengemukakan hukum-hukum.
Kaidah ketiga, sejarah itu Empiris. Inilah yang membedakan sejarah dengan ilmu agama. Sejarah itu empiris dan ilmu agama itu normative. Sejarah itu empiris karena bersandar pada pengalaman manusia yang sunguh-sunguh. Ilmu agama itu normative yang tidak berarti tidak ada unsure empirisnya, hanya saja yang normatiflah yang menjadi rujukan.

Agama
Penelitaian tentang agama dari perspetif ilmu-ilmu pengetahuan umum berbeda dengan penelitian agama dari sudut pandang ilmu agama-agama. Ilmu umum melihat agama dari sudut pandang empirisnya. Sedangkan ilmu agama melihat dari segi normatifnya. R.N Bellah memberikan definisi agama sebagai berikut “ a set symbolic forms and acts which relate man to the ultimate condition of his existence”. Mahasiswa yang berasal dari ilmu-ilmu empiris hanya peka pada satu dimendi agama, yaitu dimensi konsekuensi sosial. Padahal dimensi agama ada lima hal yaitu keyakian, praktik keagamaan, pengetahuan keagaman, pengalaman dan konsekuensi sosial.

Model-model Pendekatan

Pendekatan sejarah politik. dari semua pendekatan model inilah yang paling mudah dijangakau sebab peristiwanya ada dipermukaan, seumbrenya mudah dicari dan dari segi publisitas juga paling popular.
Pendekatan sejarah ekonomi. Kita belum menemukan tulisan sejarah yang menghubungkan antara agama dan ekonomi. Padahal hipotesisnya jelas contohnya munculnya Sarekat Islam. Sejarah lebih dari segalanya adalah “a science of change”. Jadi penelitian sejarah harus memperhatikan perubahan-perubahan. Untuk meneliti agama dari perspektif sejarah ekonomi, seorang sejarahwan harus melihat korelasi antara perubahan keagaaman masyarakat dengan perubahan ekonomi atau sebaliknya.
Pendekatan sejarah sosial. Selain yang normative, agama adalah sebuah institusi sosial. Sebagai institusi sosial inilah agama menjadi bahan kejadian sejarah. Ada dua model perubahan :
o Model evolusi sejarah :perubahan birokrasi, perubahan kelas pemeluk, perubahan lokasi.
o Model kekuatan sejarah : agama dan modernisasi, agama dan penetrasi agama lain, agama dan pribadi kreatif , agama dan masyarakat pasca industrial.
Pendekatan Sejarah Intelektual. Model ini mendekatai sejarah agama dengan melihat ada perkembangan intelektualitasnya. Dalam sejarah intelektual dikemukakan hasil pemikiran perorangan sedangkan sejarah mentalitas mementingkan pemikiran kolektif.
Pendekatan sejarah kebudayaan. Kebudayaan adalah symbol, nilai dan perilakuanya. Tugas sejarah kebudayaan , menurut Huizinga ialah mencari pola-pola kehidupan, kesenian dn cara berfikir secara bersama-sama dari suatu zaman.
Pendekatan sejarah kesenian. Buku-buku sejarah kesenian yang ada kebanyakan berupa teks zaman kejayaan islam. Juga hanya melukiskan seni zaman klasik. Seniman islam lahir dan berkembang. Seni lukis,musik,film dan sinetron maju pesat dan mendapatkan lahan yang subur. Tetapi kajian mengenai perkembangan itu tidak ada sama sekali, hampir semua buku adalah buku politik.
Pendekatan sejarah mentalis. Michele Vovelle mengemukakan tiga istilah pokok dalam sejarah mentalitas yaitu pikiran kolektif, perasaan kolektif dan imajinasi kolektif, ketiganya dengan ketentuan sudah ada sociabilite. Disini tekanan kita ialah pada pikiran kolektif . pikiran kolektif itu umpanya ialah nasionalisme , anti- feodalisme, kemerdekaan, konsep negara dan demokrasi.
Pendekatan sejarah sensibilitas. Lucien Febvre mengatakan bahwa sejarah sensibilitas ialah sejarah kandungan emosional manusia dalam kurun waktu . Contohnya adalah amukan massa pasca memorandum I DPR pada presiden 2001.
Pendekatan Biografi, Psycho-hystory, Prospografi. Biografi menekankan pengalaman pribadi, proses “menjadi” dan karakter seoran tokoh. Psychohistory adlah panduan psikoanalisis dan sejarah. Erik H erikson berpendapat bahwa persaingan dengan saudara-saudaranyalah yang menjadi pendorongan Nixon untuk sukses. Prospography atau biografi kolektif menunjuk pada biografi kolektif dipakai melainkan para tokoh yang mempunyai semangat yang sama. Dalam sejarah agama biografi kolektif dapat dipakai untuk menunjukan bahwa ada semangat yang sama pada pada tokoh agama.

Bab XI
Sejarah Politik

Pada mulanya politik adalah tulang punggung sejarah. Oleh karena buku sejarah paling banyak berisi rentetan-rentetan kejadian mengenai raja, negara dan bangsa. Namun menjelang PD II aliran Annales ingin memperluas dengan memajukan sejarah sosial, sejarah structural atau sejarah local. Sehingga politik tidak dianggap menjadi tulang punggung sejarah lagi yang kemudian menyebabkan munculnya spesialis baru dalam sejarah. Sementara itu kemajuan-kemajuan yang dicapai ilmu sosial juga mempengaruh ilmu sejarah, ada rapproachment antara ilmu sejarah dengan ilmu sosial. Sejarah yang semula bersifat diakronik ditambah sinkronik
Sejarah yang mempelajari masa lalu mempelajari juga masalah-masalah kontenporer. Akibatnya, objek penelitian sejarah berhimpitan degan objek ilmu-ilmu sosial. Untuk membedakannya dengan ilmu sosial harus menekankan pada aspek diakronisnya. Difenisi sejarah sebagai a science of change dari waktu ke waktu hendaknya tetap dipertahankan.

Dari Sejarah Politik ke Sejarah Kekuasaan
Supaya sejarah politik dapat memanfaatkan penemuan dan pendekatan ilmu-ilmu sosial, sejarah politik perlu mengubah orientasi. Perubahannya diantaranya mengubah objek penelitian. Sejarah politik bukan lagi semata-mata menulis mengenai politik, tetapi tentang kekuasaan pada umumnya. kuntungan dari redefinisi itu ialah meluasnya ruang lingkup sejarah. Kekuasaan pasti ada dimana-mana, bukan hanya milik pemerintah dan negara.

Pendekatan

1. Sejarah Intelektual
Asumsi pokok dari sejarah intelktual ialah adanya jiwa zaman dan pandangan sejaraj idelalistis yang berpendapat bahwa pikiran-pikiran mempengaruhi prilaku. Dari sejarah intelktual berkembanglah sejarah mentalitas, yaitu’ sejarah intelektual” dari masa anonym.
2. Sejarah Konstitusional
Dari konstitusi suatu bangsa kita mengetahui filsafat hidup dasar pemikiran waktu membangun bangsa, dan struktur pemerintahan yang dibangun. Dalam setiap kontitusi juga terlihat kepentingan konsenseus yang dibuat dan konsensi yang diberikan kepada masing-masing kepentingan.
3. Sejarah Institusional
Semua system politik mempunai perangkat (lembaga,struktur,institusi), baik negara (cabinet,birokrasi,parlemen,militer) dan non- negara (ormas, orsospol, LSM) .akan tetapi yang paling banyak ditulis adalah partai dan militer.
4. Sejarah Behavioral
Istilah ini belum baku dalam ilmu sejarah karenanya untuk keperluan heuristic bahan kajian sendiri saja. Perilaku (behavior) negara dan partai politik dalam sosialisasi gagasan, rekurtmen pimpinan/anggota dan pelaksanan tindaan politik termasuk dalam sejarah prilaku
5. Sejarah Komparataif
Kajian perbandingan belum popular di indonesia, itu pun tidak dengan perspektif sejarah tapi ilmu politik. kajian ini sangat menjajikan .
6. Sejarah Sosial
Kelompok-kelompok sosial (ulama,santri, pengusaha,buruh) juga mempunyai aspirasi politik sesuai dengan kepentingannya. Walaupun sudah banyak ditulis tetapi banyak yang tidak berperspektif ilmu politik.
7. Sejarah Kasus
Banyak yang sudah dikerjakan orang mengenai kasus-kasus politik, seperti munculnya partai-partai dan kajian tentang pemilu. Pada umumnya tema datang dari pada ilmuan politik dan bukan dari sejarahwan.
8. Biografis
Tidak banyak buku biografi yang jelas berupa biografi politik.

Ilmu –Ilmu Bantu
Sosiologi
Menulis sejarah politik dengan pendekatan sejarah institusional, sejarah behavioral dan sejarah sosial hampir tidak mungkin tanpa latar belakang pengetahuan sosiologi yang cukup. Masalah elite, kelas, petani, konflik dan kepemimpinan adlah terminology sosiologi atau sosiologi politik.
Antropologi
Perbedaan antara antropologi sosial dan sosiologi sangat tipis. jika Masalah sosial dikembalikan pada nilai, itu antropologi sosial. Sementara itu, sosiologi selalu mengembalikan permasalahan pada posisi sosial orang.

Ekonomi
Menulis buku seperti Mochtar Mas’oed. “Ekonomi dan politik orde baru” tidaklah mungkin tanpa pengetahuan minimal tentang ilmu ekonomi. Tetapi tidak perlu menjadi ahli ekonomi.

Psikologi
Semua biografi yang berusaha mengetahui kejiwaan seseorang pastilah memerlukan psikologi. Tulisan Anhar gonggong tentang Qahhar Mudzakkar mengunakan konsep sirik. Ini memerlukan bekal ethno-psychology , atau gabungan etnologi dan psikologi.

Sejarah Politik Tingkat Lokal
Kita ingin membedakan politik tingkat local degan politiklokal. Peristiwa tiga daerah dan angkatan Oemat Islam adlah tingkat-lokal. Sedangkan peristiwa banyuwangi, situbondo dan tasikmalaya adlah politik local. Bedanya politik tingkat local adalah kepanjagan dari peristiwa nasional, sedangkan politik local hanya berhenti di tempat itu saja. Mungkin bisa diterangkan dari atas dengan menghubungkannya padapolitik nasional, mungkin hanya bisa diterangkan dengan melihat ke bawah lokalitas sendiri.

Bab XII
Sejarah Pemikiran

Sejarah pemikiran adalah terjemahaan dari history of thougt “history of ideas atau intellectual history. Sejarah pemikiran dapat didefinisikan sebagai the study of the role of ideas in historical events and process. Semua perbuatan pasti dipengaruh pemikiran. Misalnya gerakan koperasi dipengaruhi oleh pemikiran Mohhamad Hatta. Karenanya, sebagai “ daging yang berpikir manusia tidak bisa lepas dari dunia pemikiran. Dan seorang tidak bisa lepas dari ide.
Mengenai sejarah pemikiran R.G Collingwood dalam idea of history mengatakan diantaranya bahwa:
a. Semua sejarah adalah sejarah pemikiran
b. Pemikiran hanya dpat dilakukan oleh individu tunggal
c. Sejarahwan hanya melakuakn kembali pikiran masa lalu itu.
Jenis pemikiran itu bisa bermacam-macam. Pemikiran bisa mengenai politik, agama, ekonomi, sosial, hukum, filsafat, budaya dan sebagainya yang akan kita sebut sebagai pemikiran teoritis.

Permasalahan
Pelaku pemikiran dilakukan oleh perorangan. Tugas sejarah pemikiran ialah membicarakan pemikiran-pemikiran besar yang berpengaruh pada kejadian bersejarah, melihat konteks sejarahnya tempat ia muncul, tumbuh dan berkembang dan pengaruh pemikiran pada masyarakat bawah yaitu mencari hubungan antara para filusuf, kaum intelektual , para pemikir dan cara hidup yang nyata (actual)dari juataan orang yang menjalankan tugas peradaban.

Metodologi
Teks
a. Genesis pemikiran >> suatu pemikiran dipengaruhi pemikiran sebelumnya
b. Konsistensi pemikiran >> sikap individu yang tidak berubah pada suatu pemikiran, Hatta tentang koperasi
c. Evolusi pemikiran >> perubahan pemikiran tokoh sejalan dengan waktu
d. Sistematika pemikiran >>
e. Perkembangan pemikiran >> pemikiran tokoh yang berkembang dan berubah: soekarno tentang nasakom
f. Varian pemikiran
g. Komunikasi pemikiran >>adanya perbincangan 2 toko terhadap suatu hal
h. Internal dialectics >> mencoba membandingkan 2 konsep.

Konteks
a. Konteks sejarah
b. Konteks politik
c. Konteks budaya
d. Konteks sosial

Hubungan
Ada kesuliatan untuk membahas hubungan antara pemikaran di atas dengan masyarakat di bawah. Kesuliatan pertama terletak pada ketidak jelasan mengenai siapa pembawa hubungan itu? Kesulitan kedua ialah mengenai sumber transmisi masyarakat bawah pasti menerima transmisi pemikiran dari berbagai sumber tidak hanya dari satu sumber.
Pengaruh pemikiran. Buku Hatta tentang ekonom, koperasi dan sebagainya hanya akan dibaca oleh culture broker tetapi tidak oleh masyrakat bawah. Pasti tidak dibaca oleh pengurus koperasi di kampong-kampung namun hanya saja ada satu departemen khusus yang melaksanakan cita-citanya itu.
Impelemtasi pemikiran. Para pemikir pendidikan Taman Siswa, pendidikan Muhammadiyah dan sebagainya implikasinya belum tentau para siswa dan mahasiswa tahun pemikiran-pemikirannya.
Disemenasi pemikiran. Buku tembang seperti wadhatama yang sering ditembangkan tetapi tidak sadar bahwa ajaran-ajaran dalam tembang itu berasal dari zaman “feodalisme” yang tidak sesusai lagi dengan negara republic dan demokrasi.
Sosialisasi pemikiran. Kalau diseminasi terjadii melalui proeses sejarah natural, maka sosialisasi dikerjakan melalui rekayasa sejarah. Dalam Orde baru pernah diadakan penataran yang dilakukan besar-besaran, itu termasuk juga dalam sosialisasi pemikiran.

Sosiologi Pemikiran
Orang mengamati, memperoleh dan menerima pengetahuan tidak secara langsung, tetapi melalui symbol-simbol budaya dan sosial. Presiden soeharto menyebut petani kedunggombo yang membangkang sebagai PKI demikianlah symbol telah memnentukan pemahaman orang.
Sosiologi pengetahuan bisa didefinisikan sebagai ilmu yang menekuni hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosialnya” (Peter L berger dan Thomas Luckmann). Sosiologi pengetahuan juga mencangkup apa saja yang diketahuinya masyarakat, pengetahuan sehari-hari atau pengetahuan akal sehat. Mengenai pelaku pemikiran, sosiologi pengetahuan menanyakan latar belakang sosial pelaku. Mengenai evidensi kita harus memasukan semua system symbol. Mengenai metodologi, kita sudah memasukan konteks sosial.

Evidensi
• Evedensi tertulis, sumber sejarah ini dapat kita temukan dalam otobiografi, memoir, buku, artikel, pamphlet, sastra dan surat-menyurat.
• Prilaku, Dr. Tjiptomanoenkoesoemo pada tahun-tahun 1910 dengan sengaja naik dokar di alun-alun raja untuk menunjuk anti feodalisme
• Perkataan , presiden souharto bilang” jihad akan saya balas dengan jihad”. Hal ini tersirat dari ucapan itu ialah pemikiran tentang “bahaya laten” ekstrem kanan yang mengancam kekuasaan.
• System symbol, hasil sastra babad tanah jawi merupakan bukti legitimasi raja-raja mataram.
• Tradisi lisan, mitos tentang Nyi Loro Kidul dan sebagainya memperkuat klaim raja adalah “wakil hyang” dan sebagainya.
• Sejarah lisan, kita dapat melakukan wawancara untuk melakukan verifikasi mengenai teks pemikiran.

BAB XIII
BIOGRAFI

Biografi adalah sebuah catatan hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Dalam biografi memang memiliki cakupan dan ruang lingkup yang kecil tetapi masih dapat disebut Historiografi. Karena dari sebuah Biografi kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan social politik pada saat pelaku sejarah hidup. Sehingga kita dapat mengetahui bagaimana jiwa zaman seorang tokoh hidup.
Dalam penulisan biografi terdapat 4 unsur yang harus biasanya ditemui yaitu kepribadian tokohnya, kekuatan sosial yang mendukung, lukisan sejarah zamannya dan keberuntungan serta kesempatan yang datang. Dalam penulisan otobiografi yang ditulis sendiri oleh pelaku sejarah memiliki beberapa kelebihan. Kelebihannya yaitu sebagai sumber primer kita dapat memahami keadaan kondisi sosial masyarakat sesuai pada masa itu karena ditulis langsung oleh pelaku sejarah apa lagi jika penulis sendiri memahami dirinya dengan baik. Akan tetapi autobiografi mempunyai kelemahan yaitu pada subjektifitasnya dalam menginterpretasikan dan memahami pristiwa sejarah yang dialaminya, karena biasanya kurang bersifat menyeluruh dan lebih mengarah pada sudut pandang yang parsial.
Biografi memiliki dua macam, ada yang bersifat ilmiah (scientific) dan ada yang bersifat potrayal atau potrait yang masing-masing mempunyai metode yang berbeda. Biografi ilmiah menerangkan kehidupan tokoh berdasarkan analisis ilmiah. Sedangkan untuk potrait hanya mencoba menerangkan bagaimana kehidupan tokoh dari hasil pemikirannya yang subjektif dan kehidupan sosialnya ketika itu.
Selain diatas biografi ada biografi politik, bisnis dan kolektif. Biografi kolektif merupakan biografi dari beberapa orang yang mempunyai kesamaan latar belakang yang sama dengan cara mempelajari kehidupan mereka. Pendekatan dalam biografi kolektif mempunyai dua jenis pendekatan. Pendekatan pertama yaitu elitis yang mencoba mengunkapkan kehidupan tokoh sejarah yang terkenal. Yang kedua adalah pendekatan masa. Pendekatan masa mencoba mengungkap kehidupan suatu masyarakat dan berusaha mengungkapkan perubahan-perubahan struktural melalui fenomena mobilitas sosial dan kultural . melalui biografi kita juga dapat mengetahui sejarah kejiwaan seorang tokoh sejarah. Hal ini dapat mengunakan bantuan psikoanalisis yang diawali oleh Sigmund Freud, kemudian dilanjutkan oleh Erik H. Erikson sebagai Neo-Freudian, kemudian di Indonesia tampak pada tulisan Anhar Gonggong tentang Kahar Muzakar. Dengan Sejarah Kejiwaan dapat dijelaskan bagaimana proses pembentukan kepribadian, interaksi dengan lingkungan sekitar yang dapat mempengaruhi perkembangan jiwanya hingga pemikirannya.

BAB XIV
SEJARAH KUANTITATIF
Sejarah kuantitatif itu sendiri merupakan penulisan sejarah dengan menggunakan metode kuantitatif, hal ini berbeda dengan sejarah kualitatif dalam hal permasalahan, prosedur, dan sumber. Perbedaannya misalnya, dalam sejarah kuantitatif contohnya adalah perkembangan produksi batik Trusmi Cirebon pada tahun 1990-2000,perkembangan jumlah produksi batik merupakan permasalahan kuantitatif. Perbedaan prosedur terletak dalam penggunaan teknik matematika pada sejarah kuantitatif. Sejarah kualitatif menggunakan hermeunetika berupa interpretasi terhadap pikiran, perkataan, dan perbuatan, sedangkan sejarah kuantitatif menggunakan teknik matematika. Maka dengan teknik matematikanya sejarah kuantitatif lebih objektif, lebih mendekati kebenaran, sebab tidak tergantung interpretasi sejarawan yang subjektif. Perbedaan dalam sumber sejarah terletak pada penggunaan data sejarah. Kalau sejarah kualitatif datanya berupa deskripsi (berita), peninggalan (bangunan, foto), pikiran, perbuatan, dan perkataan (sejarah lisan) sejarah kuantitatif berupa angka-angka.
Maka ada tiga cara dalam menuliskan sejarah kuantitatif yaitu korelasi, content analyisis, dan time series. Korelasi berguna bila sejarawan mempunyai data dari dua variabel. Penulis dalam Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura, 1850-1940 pernah menghitung soal migrasi orang Madura ke Jawa: apakah gejala musiman atau gejala permanen. Jawabannya terletak pada dua data tahunan : penumpang kappa penyeberangan (Kamal- Surabaya) dan hasil panenan padi. Apabila gejala tersebut bersifat musiman, mesti korelasi koefisiensi antara penumpang dan hasil panen itu bersifat positif, sebaliknya apabila negatif berarti bukan gejala musiman. Ternyata hasil kuantifikasinya negatif, artinya penyeberangan tidak ada hubungannya dengan hasil panen, alias bukan gejala musiman.
Content Analysis, maka analisis ini berguna bila sejarawan mempunyai data dokumen tertulis. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sebuah atau serangkaian peristiwa di masa lalu. Sekalipun analisis isi hanya menjadi pelengkap dari sejarah yang non-kuantitatif, tetapi amat penting sebab menjadi kunci dari penelitian. Tanpa metode kuantitatif analisis isi hanya bersifat kesan-kesan, intuisi, interpretasi, dan tidak sistematis.
Time Series, guna time series ialah untuk menganalisi data tungal yang urut secara kronologis, seperti angka-angka penduduk, angka ekspor, angka impor, angka hasil panen, jual-beli tanah, dan pengeringan tanah. Maka dengan analisis waktu kita dapatkan diantaranya yaitu laju pertumbuhan.

BAB XV
SEJARAH MENTALITAS

Memang sama dengan sejarah kuantitatif, sejarah mentalitas (l’histoire mentalite) masih merupakan sebuah kemungkinan, tapi sebuah kemungkinan yang tidak jauh dari jangkauan penilitian mudah dijangkau karena :.
• sejarah mentalitas dekta dengan tingkat kesadaran masyarakat,
• sumber sejarah mentalitas tersedia dengan mudah (Koran, masyarakat, sejarah lisan), dan
• sejarah mentalitas tidak memerlukan sumber asing (Belanda), karena topic-topik kontemporer (sesudah 1945) banyak sekali.
Sebelum beranjak kepada sejarah mentalitas, perhatikan peristiwa-peristiwa berikut yang menyangkut fakta individual dan fakta soSial. Pertama, fakta individual, misalnya studi tentang kepribadian Joseph V. Stalin oleh Gustav Buchowski menyimpulkan bahwa Stalin mengidap paranoia. Sebagai anak petani-pengerajin sepatu, Stalin mengalami perlakukan kejam dan tiranikal dari ayahnya, sehingga Stalin belajar untuk memendam kebencian sampai saatnya ia dating untuk membalas.
Selanjutnya dikatakan bahwa Stalin secara fisik mempunyai rasa rendah diri, tangan kiri yang lemah, muka bekas cacar, dan penampilan tidak sedap. Maka rasa rendah diri itulah yang menjadikannya melakukan kompensasi yang berlebihan. Psiko-individual Stalin memuluskan jalannya menjadi seorang dictator yang secara brutal melindas lawan-lawannya.
Gejala kasus popular art dan folk religion termasuk collective consiciousness atau representation collectives. Durkheim mengatakan bahwa fakta sosial adalah semua cara bertindak suatu masyarakat, setuju atau tidak individunya. Masyarakat sanggup membatasi perilaku individual sesuai dengan kemauannya, fakta sosial mempunyai kehidupannya sendiri merdeka dari kehidupan individual.
Maka dimulailah apa yang dimaksud dengan sejarah mentalitas Sejarah mentalitas dikembangkan oleh sekelompok Annales di Perancis yang didirikan oleh Lucien Febvre dan Marc Bloch pada tahun 1929. Sejarah mentalitas muncul pada tahun 1960-an dan 1970-an sebagai reaksi terhadap determinisme. Sejarah mentalitas melihat mentalitas sebagai fakta sosial, merdeka dari determinisme apa pun. Oleh karenanya, dikatakan bahwa sejarah mentalitas telah mengangkat mentalitas dari ruang bawah tanah ke ruang bawah atap (form cellar to attic) Maka sejarah mentalitas bagi Vovelle adalah sejarah ketidaksadaran kolektif, sejarah tentang mentalitas yang pra-verbal dan pra-reflkesif.Dalam pendekatannya selain hermeneutika (menafsirkan) yang menjadi pendekatan umum terhadap semua Geistewissenchaften (ilmu-ilmu kemanusiaan), tulisan ini akan menjelaskan dua pendekatan yang khusus untuk sejarah mentalitas yaitu Verstehen dan imajinasi sejarah.
Adapun proses yang harus dilalui ialah empati (menyatu ras), dan kerna empati masih menyiratkan adanya dua pihak, yaitu pemakna (orang luar) dan yang dimaknai (pikiran subjektif), maka harus dilengkapi dengan to relive, relive berarti hidup dalam makna subjektif itu. Kalau kita tidak bisa hidup dalam makna subjektif, sejarawan tidak akan bisa memahami ketidaksadaran kolektif, seperti cinta, permainan, dan ketakutan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: